Di era longevity, banyak individu ingin tetap aktif hingga usia lanjut
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Seiring bertambahnya Angka Harapan Hidup (AHH) Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 kesadaran masyarakat terhadap konsep longevity atau hidup sehat dan berkualitas dalam jangka panjang juga semakin meningkat.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kesehatan agar tetap aktif dan produktif, namun kesehatan mata dan kualitas penglihatan masih sering terabaikan padahal, mata berperan penting dalam menunjang gaya hidup aktif serta menjaga kualitas hidup.
Tantangan kesehatan mata saat ini pun beragam, mulai dari presbiopia (mata tua) akibat proses penuaan alami hingga meningkatnya risiko miopia (rabun jauh) dan astigmatisme (silinder) yang dipicu oleh penggunaan perangkat digital secara intensif.
dr Ucok P Pasaribu Sp.M (K), dokter konsultan spesialis mata Mayapada Eye Centre mengatakan gangguan mata biasanya mulai dirasakan ketika seseorang berusia 40 tahun.
“Di era longevity, banyak individu ingin tetap aktif hingga usia lanjut. Namun, seiring bertambahnya usia, kemampuan fokus mata akan menurun yang dikenal sebagai presbiopi, yaitu kondisi ketika mata mulai sulit melihat objek dekat. Kondisi ini mulai muncul usia 40 tahun, dan kini semakin terasa akibat tingginya penggunaanperangkat digital dalam aktivitas sehari-hari,” kata Ucok saat Media Gathering di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).
dr Ucok mengungkapkan pengalamannya ketika menginjak usia 40 tahun, matanya mulai plus 1,5. Tujuh tahun setelahnya, Ucok mengatakan kemampuan membaca dalam 15 menit mulai tidak enak.
“Memang beda tiap orang. Tapi yang pasti pada saat aging itu bertambah, plus itu juga bertambah. Usia 40 tahun saya plus 1,5. Usia 47 tahun, 15 menit aja baca nggak enak. Saya kira ukuran kaca mata saya, ternyata yang berubah cuma satu, umur saya,” kata Ucok saat Media Gathering di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).
Ucok mengatakan saat itu, dia kadang merasa semau baik-baik saja. Namun, faktor penambahan umur memang berpengaruh terhadap kesehatan mata.
Pengaruh Perangkat Elektronik
dr Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M mengatakan miopia dan astigmatisme semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif seiring tingginya penggunaan perangkat digital sejak usia dini.
“Memang sekarang dengan era digital, anak-anak usia balita sudah terpapar digital. Itu kekhawatiran kita untuk membatasi. Bisa berikan berapa menit atau jam dalam satu hari,” kata Zoraya.
Zoraya mengatakan kualitas penglihatan merupakan fondasi penting dalam menjaga kualitas hidup. Banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar gawai atau membaca buku dalam waktu yang panjang sehingga, mata terus bekerja dalam jarak dekat dan lebih rentan mengalami kelelahan serta gangguan refraksi.
Kondisi ini membutuhkan kacamata atau lensa kontak untuk dapat melihat dengan jelas. Namun, sering kali kacamata memengaruhi kenyamanan, produktivitas, hingga kualitas hidup sehari-hari.
“Karena itu, menjaga kesehatan mata menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mempertahankan produktivitas dan kualitas hidup di era longevity,” kata dia.
Zoraya mengatakan untuk membantu mengatasi kondisi tersebut mata juga harus dirawat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara teknologi koreksi penglihatan menggunakan laser femtosecond generasi terbaru.
Sumber: Erik S – TRIBUNNEWS.COM
( https://www.tribunnews.com/kesehatan/7844804/kesehatan-mata-penting-untuk-menjaga-kualitas-hidup-di-usia-lanjut )





