Fimela.com, Jakarta – Belakangan, istilah longevity semakin sering diperbincangkan. Jika dulu hidup sehat identik dengan menjaga pola makan dan rutin berolahraga, kini semakin banyak orang mulai memikirkan bagaimana tetap aktif, mandiri, dan produktif hingga usia lanjut.
Konsep longevity sendiri tidak hanya berbicara tentang usia yang panjang (lifespan), tetapi juga kualitas hidup (healthspan). Artinya, menikmati usia yang lebih panjang dengan kondisi tubuh yang tetap sehat sehingga dapat menjalani berbagai aktivitas tanpa banyak keterbatasan.
Sejalan dengan meningkatnya Angka Harapan Hidup (AHH) masyarakat Indonesia, kesadaran untuk berinvestasi pada kesehatan jangka panjang pun ikut bertumbuh. Namun, di tengah berbagai upaya menjaga kesehatan tubuh, ada satu aspek yang masih sering luput dari perhatian, yaitu kesehatan mata.
Padahal, penglihatan merupakan salah satu indra yang paling berperan dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Mulai dari bekerja di depan komputer, mengemudi, membaca, hingga menikmati waktu bersama keluarga, semuanya bergantung pada kemampuan mata untuk melihat dengan optimal.
Gaya hidup modern membuat mata bekerja jauh lebih intens dibandingkan beberapa dekade lalu. Hampir seluruh aktivitas dilakukan melalui layar digital, mulai dari rapat daring, membalas pesan, membaca dokumen, hingga menikmati hiburan melalui ponsel.
Menurut dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, Dokter Spesialis Mata di Mayapada Eye Centre (MEC), penggunaan perangkat digital dalam waktu lama membuat mata terus berfokus pada jarak dekat sehingga lebih rentan mengalami kelelahan maupun gangguan refraksi, seperti miopia (rabun jauh) dan astigmatisme (mata silinder).
Kondisi tersebut kini tidak lagi hanya dialami kelompok usia tertentu. Anak muda hingga pekerja produktif pun semakin banyak yang bergantung pada kacamata atau lensa kontak untuk beraktivitas.
Meski penggunaan kacamata bukanlah masalah, sebagian orang merasa alat bantu penglihatan tersebut dapat memengaruhi kenyamanan ketika bekerja, berolahraga, atau menjalani aktivitas dengan mobilitas tinggi.
Selain gangguan refraksi, proses penuaan alami juga membawa tantangan lain bagi kesehatan mata, yakni presbiopia atau yang lebih dikenal sebagai mata tua.
Kondisi ini biasanya mulai dirasakan ketika seseorang memasuki usia 40 tahun. Tanda yang paling umum adalah kesulitan membaca tulisan kecil atau melihat objek dalam jarak dekat sehingga tanpa sadar harus menjauhkan buku maupun ponsel agar tulisan terlihat lebih jelas.
Menurut dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M(K), Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, penurunan kemampuan fokus mata merupakan bagian dari proses penuaan yang alami. Namun, di era digital saat ini, gejalanya kerap terasa lebih cepat karena mata terus dipaksa bekerja dalam jarak dekat sepanjang hari.
Hal tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mata sebaiknya tidak menunggu hingga gangguan penglihatan mulai menghambat aktivitas.
Sumber: Vinsensia Dianawanti – Fimela.com
( https://www.fimela.com/health/read/7894846/tren-gaya-hidup-longevity-meningkat-kesehatan-mata-jadi-investasi-jangka-panjang )





