JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak orang mulai menyadari perubahan pada penglihatannya ketika memasuki usia 40 tahun. Aktivitas sederhana seperti membaca pesan di ponsel, melihat label produk, atau membaca buku mulai terasa lebih sulit dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut sering kali dikaitkan dengan presbiopia atau yang lebih dikenal sebagai mata tua atau presbiopia.
Meski umum terjadi, masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan ini sebagai masalah penglihatan yang muncul secara tiba-tiba. Menurut Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre (MEC), dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, presbiopia merupakan bagian dari proses penuaan alami yang berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Apa itu presbiopia atau mata tua?

Dr. Zoraya menjelaskan, presbiopia terjadi ketika kemampuan mata untuk menyesuaikan fokus pada objek jarak dekat mulai berkurang. Kondisi ini berkaitan dengan perubahan elastisitas otot dan struktur di dalam mata yang berfungsi membantu proses fokus penglihatan.
“Presbyopia atau mata tua. Elastisitas otot di dalam bola mata yang berfungsi untuk memfokuskan cahaya pada saat kita melihat objek jauh maupun dekat seiring berjalannya waktu akan berubah,” jelas dr. Zoraya dalam Media Gathering bersama Mayapada Eye Centre (MEC), di Jakarta Pusat, Sabtu (20/6/2026).
Akibat perubahan tersebut, mata membutuhkan usaha lebih besar untuk melihat objek yang berada pada jarak dekat. Maka dari itu, tidak sedikit orang yang mulai menjauhkan ponsel atau buku saat membaca agar tulisan terlihat lebih jelas.
Presbiopia bukanlah penyakit, melainkan perubahan fisiologis yang terjadi seiring bertambahnya usia. Hampir setiap orang akan mengalaminya dalam tingkat yang berbeda-beda.
Menurut dr. Zoraya, proses penuaan tidak hanya terjadi pada kulit, tulang, atau sendi, tetapi juga memengaruhi fungsi penglihatan. Seiring waktu, berbagai bagian tubuh mengalami perubahan yang berdampak pada kemampuan kerjanya. “Dengan perkembangan usia akan terjadi proses aging. Lutut kita mulai nyeri, punggung mulai kaku-kaku, begitu pun dengan mata,” ujarnya.
Pada mata, perubahan tersebut membuat kemampuan beradaptasi antara melihat objek jauh dan dekat menjadi semakin terbatas. Kondisi inilah yang menyebabkan seseorang merasa penglihatannya tidak lagi sefleksibel saat masih muda. “Mata kita mengalami proses kekakuan dalam beradaptasi jauh dan dekat, utamanya pada saat melihat dekat,” kata dr. Zoraya.
Karena prosesnya berlangsung perlahan, banyak orang tidak langsung menyadari adanya perubahan. Keluhan biasanya baru terasa ketika aktivitas sehari-hari mulai terganggu, terutama yang membutuhkan fokus pada jarak dekat dalam waktu lama.
Selain usia, dr. Zoraya mengatakan, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi proses penuaan pada mata.
Faktor-faktor tersebut dapat membuat gejala presbiopia muncul lebih cepat atau lebih lambat pada setiap individu. “Proses penuaan pada mata dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya faktor genetik, faktor kebiasaan, ada dugaan bahwa bisa disebabkan oleh kebiasaan melihat dekat dengan intensitas yang tinggi,” jelasnya.
Kebiasaan melihat objek dalam jarak dekat secara terus-menerus, seperti menatap layar komputer, ponsel, atau membaca dalam durasi panjang, diduga turut berperan dalam mempercepat munculnya keluhan terkait kemampuan fokus mata.
Meski demikian, tidak semua faktor dapat dikendalikan. Salah satu yang paling berpengaruh adalah faktor keturunan. “Yang sulit untuk kita kendalikan adalah faktor genetik, gitu. Kalau memang ada keturunan proses aging di matanya dini, maka itu akan bisa terjadi lebih cepat walaupun kita memiliki lifestyle yang lebih baik,” ucap dr. Zoraya.
Oleh karenanya, menjaga kesehatan mata tetap penting dilakukan sejak usia muda. Meskipun proses penuaan tidak dapat dihentikan, kebiasaan yang baik dapat membantu menjaga fungsi penglihatan agar tetap optimal lebih lama.
Pemeriksaan mata secara berkala juga diperlukan untuk memantau perubahan yang terjadi dan memastikan gangguan penglihatan dapat ditangani sedini mungkin.
Sumber: Devi Pattricia, Bestari Kumala Dewi – Kompas.com






