Di Balik Kebutuhan Kacamata Baca yang Muncul Saat Usia 40

dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M(K) menjelaskan penyebab banyak orang mulai butuh kacamata baca di usia 40-an.

Di Balik Kebutuhan Kacamata Baca yang Muncul Saat Usia 40

Liputan6.com, Jakarta – Memasuki usia 40, banyak orang mulai mengalami perubahan pada penglihatan, terutama saat melihat objek dekat. Tulisan di ponsel terasa semakin kecil, tangan harus menjauh saat membaca, hingga muncul keluhan sakit kepala setelah membaca dalam waktu lama. Kondisi ini umumnya terjadi akibat presbiopia atau mata tua, yaitu penurunan kemampuan mata untuk fokus pada jarak dekat karena proses penuaan alami.

Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M(K), mengatakan bahwa kondisi ini biasanya mulai terasa pada usia 40 hingga 45 tahun.

“Begitu usia 45 tahun, keperluan (pakai kacamata baca) sudah enggak bisa ditunda. Daripada sakit kepala, ngelihat makanan saja tuh warnanya beda,” kata Ucok dalam diskusi media ‘Longevity Era: Investing in Vision for a Better Quality of Life’ pada Sabtu (20/6/2026)

Presbiopia terjadi ketika lensa mata kehilangan elastisitasnya seiring bertambahnya usia. Saat masih muda, lensa mata dapat dengan mudah berubah bentuk untuk membantu fokus melihat objek pada berbagai jarak.

Namun, kata Ucok, seiring waktu lensa menjadi lebih kaku sehingga kemampuan fokus untuk melihat dekat pun berkurang.

Akibatnya, aktivitas sehari-hari seperti membaca pesan di ponsel, melihat bon belanja, membaca koran, atau bekerja di depan komputer menjadi lebih sulit dilakukan tanpa bantuan kacamata.

Tak sedikit orang yang akhirnya harus menjauhkan ponsel atau mencari pencahayaan lebih terang agar tulisan terlihat jelas.

Guna mengatasi kondisi tersebut, kacamata baca masih menjadi solusi yang paling umum digunakan.

Saat ini tersedia berbagai pilihan, mulai dari kacamata baca biasa, bifokal, hingga lensa progresif yang dapat membantu penglihatan jauh, menengah, dan dekat dalam satu lensa.

Ucok mengaku dirinya juga mulai menggunakan kacamata baca saat memasuki usia pertengahan 40-an. “Sejak usia 44–45 tahun saya sudah mulai pakai kacamata baca. Kalau saya, saya lebih senang pakai kacamata progresif,” katanya.

Selain kacamata, perkembangan teknologi di bidang oftalmologi juga menghadirkan alternatif lain berupa laser vision correction, seperti Presbyond.

Prosedur ini menggunakan teknologi laser untuk memodifikasi bentuk kornea sehingga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap kacamata, termasuk pada pasien dengan presbiopia.

Meski demikian, Ucok menegaskan bahwa tujuan tindakan tersebut bukan untuk membuat penglihatan kembali sempurna seperti saat muda, melainkan mengurangi kebutuhan penggunaan kacamata dalam aktivitas sehari-hari.

“Targetnya bukan untuk benar-benar normal senormal-normalnya, tapi mengurangi ketergantungan terhadap kacamata,” ujarnya.

Ucok juga mengingatkan bahwa kualitas penglihatan di usia lanjut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usia, tapi juga kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Gaya hidup yang kurang sehat dapat mempercepat proses penuaan lensa mata sehingga berbagai manfaat koreksi penglihatan bisa berkurang lebih cepat.

Oleh sebab itu, menjaga kesehatan mata perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari menerapkan pola makan seimbang, mengendalikan penyakit kronis, mencukupi waktu istirahat, hingga rutin memeriksakan kesehatan mata ke dokter.

 

Sumber: Aditya Eka Prawira – Liputan6.com
( https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/7894550/di-balik-kebutuhan-kacamata-baca-yang-muncul-saat-usia-40 )

Berita Lainnya

Topik Terkini